Sunday, January 15, 2023

PENGARUH NILAI – NILAI PANCASILA DALAM PERILAKU PESERTA DIDIK KELAS XI IPA SMA NEGERI 2 SEMAU

 

PENGARUH NILAI – NILAI PANCASILA DALAM PERILAKU PESERTA DIDIK KELAS XI IPA SMA NEGERI 2 SEMAU

KECAMATAN  SEMAU, KABUPATEN KUPANG

Disusun Sebagai salah satu tugas Mata Kuliah

 

 


OLEH

 

NAMA                           : SINYO ESRAHI SAUDALE

NIM                               : 022841063

ALAMAT EMAIL       :  sinyoinyo80@gmail.com

SEMESTER                 : 2021/22.2 (2022.1)

PROGRAM STUDI     : Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)

 

 

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS TERBUKA

2022

 

 

 

 

ABSTRAK

 

Pendidikan merupakan suatu hal yang harus di dapat oleh setiap warga negara perkotaan sampai pelosok desa maupun pedalaman. Saat ini dalam manyambut era digitalisasi Indonesia harus sejak awal menanamkan nilai-nilai pancasila pada peserta didik agar memahami tentang pancasila yang menjadi dasar negara kesatuan Republik Indonesia.

 Rumusan masalah dalam penilitian ini adalah “ Pengaruh Nilai-Nilai Pancasila Terhadap Perilaku Peserta Didik Melalui Pembelakajaran PKn Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 2 Semau  Penelitian ini bertujuan untuk  Untuk mengetahui  Pengaruh Nilai-Nilai Pancasila Terhadap Perilaku Peserta Didik Melalui Pembelakajaran PKn Siswa Kelas XI IPA Semester I SMA  Negeri 2 Semau.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yaitu metode yang menekankan pada makna, penalaran, definisi tertentu, dan  menggambarkan apa adanya mengenai obyek yang di teliti. Pada tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah tehnik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun tehnik analisis data yang peneliti gunakan antara lain reduksi data yaitu pemilihan data yang penting, penyajian data yaitu merangkai beberapa data menjadi satu dan memilihnya sesuai dengan  yang di butuhkan, penarikan kesimpulan yaitu mengumpulkan bukti yang ada kemudian di deskripsikan secara cermat dan sistematis.

Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu kegiatan Prasiklus, Siklus I dan Siklus II. Melalui tahapan penelitian tersebut dapat dilihat perubahan pemahaman siswa yang cukup siknifikan dalam memahami materi pembelajaran.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh nilai-nilai pancasila terhadap perilaku peserta didik SMA Negeri 2 Semau kelas XI IPA yaitu melalui kegiatan pembelajaran agama, mata pelajaran Pkn dan mata pelajaran yang lainnya yaitu dengan mengajarkan dan menanamkan silasila pancasila dan pengimplementasinya dalam kegiatan di sekolah baik dalam kelas maupun di luar kelas.

 

Kata kunci: Nilai-nilai pancasila, Implementasi Nilai Pancasila, Perilaku Peserta didik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Era digital saat ini, Perkembangan teknologi yang semakin maju dengan kecanggihannya telah menjadi bagian dari berbagai kegiatan manusia, baik dalam bidang perekonomian maupun bidang pendidikan dan tehnologi. Kebijakan baru yang inovatif dan strategis sangat diperlukan dalam berbagai segi kehidupan mulai dari sumber daya manusia, lembaga, mata pelajaran, pengembangan kurikulum yangkreatif dan inovatif . Meski bangsa Indonessia pernah menjadi negara jajahan tapi jangan sampai nilai-nilai pancasila yang sudah di rumuskan oleh pendahulu kita yang sudah mempersatukan bangsa Indonesia, akan terabaikan begitu saja di hempas pengaruh zaman digital yang semakin berkemajuan. Meskipun tidak dapat kita pungkiri bahwa di era digital saat ini mempunyai dampak yang sangat signifikan dalam bidang kehidupan.

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 Pasal 3, menegaskan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu ulet, cakap, kreatif, mandiri, bekerja ker­­­­­­­as, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

Di era digitalisasi saat ini bangsa Indonesia harus mereformasi di bidang pendidikan, dengan menciptakan sistem yang relevan. Seperti yang kita lihat saat ini ada sedikit terjadi penurunan jiwa pancasila di kalangan peserta didik kita dan juga penurunan moralitas di kalangan pelajar maupun masyarakat pada umumnya contohnya banyaknya perkelahian antar pelajar,banyaknya kasus mencontek ketika ujian, minum-minuman keras di kalangan pelajar, peredaran narkoba yang semakin marak baik dikalangan pelajar maupun masyarakat, toleransi antar umat yang mulai memudar dan lain-lain. Maka dari itu peserta didik harus di tanamkan nilai-nilai pancasila di samping juga peran agama juga sangat mendukung dalam mengisi jiwa peserta didik menjadi pribadi mulya dan berjiwa pancasila. Pendidikan di Indonesia harus dirumuskan dan dirancang sebaik mungkin sehingga peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai harapan dan sesuai dengan tujuan bangsa Indonesia tanpa mengurangi suasana kebebasan, tanggung jawab sebagai warga negara yang baik.

Sebagai bangsa yang berbhineka tunggal eka kita harus dapat menanamkan nilai-nilai Pancasila agar tetap terjaga samapai akhir nanti oleh karenanya sebagai generasi bangsa kita betul - betul harus menyiapkan diri agar dapat menghadapi dan dapat bersaing dalam segala bidang dalan menyongsong kehidupan yang berkemajuan tentunya dengan tetap membawa Indonesia menjadi lebih baik tanpa mengeyampingkan ciri khas bangsa Indonesia. Sementara itu nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter bersumber dari: 1) Agama, 2) Pancasila,3) Budaya, dan 4) Tujuan Pendidikan Nasional.

Di era digital ini juga masih banyak sebagian warga negara Indonesia yang minim pengetahuan tentang Pancasila. Ini artinya sebagian warga negara mungkin belum banyak memperhatikan dan memahami nilai-nilai yang terkadung dalam pancasila. Ini ditemukannya warga negara yang tidak hafal sila pancasila kareana mungkin menganggap remeh sekolah, dan perasaan ingin menang sendiri tidak mengedepankan  kepentingan  umum,  terjadinya  degradasi  moral  di masyarakat.

Berdasarkan hasil observasi masalah yang timbul dari pembelajaran PKn di kelas XI IPA SMA Negeri 2 Semau, yaitu guru mendominasi kelas. Inisiatif, informasi, pertanyaan yang terpusat pada guru sehingga kurangnya minat dan kesungguhan siswa terhadap materi pelajaran PKn. Hal ini disebabkan karena siswa di kelas masih dipandang sebagai objek pengajaran yang sama, tanpa melihat perbedaan individual siswa baik dari minat, bakat, latar belakang sosial ekonomi dan kesiapan belajar yang berdampak siswa cenderung pasif.

Proses pembelajaran PKn di kelas XI  IPA SMA Negeri 2 Semau dilakukan dengan harapan adanya pengaruh nilai-nilai pembelajaran dalam perkembangan dan tindakan sebagai implementasi dari dalam diri peserta didik dari apa yang di peroleh dalam kegiatan pembelajaran.

Setiap model pembelajaran membutuhkan sistem pengolahan dan lingkungan belajar yang sedikit berbeda, tetapi memiliki komponen-komponen yang sama, yaitu setiap modelpembelajaran diawali dengan upaya menarik perhatian siswa dan memotivasi siswa agar terlibat dalam proses pembelajaran (Khabibah, 2006:45). Sehingga diperlukan suatu model pembelajaran yang diharapkan dapat mengaktifkan semua siswa.

Berdasarkan kegiatan prapenelitian atau observasi yang dilakukan peneliti maka peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian dengan judul “ Pengaruh Nilai-Nilai Pancasila Terhadap Perilaku Peserta Didik Melalui Pembelakajaran PKn Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri Negeri 2 Semau

1.2. Identifikasi Masalah

Adapun beberapa hal yang dapat menjadi pengaruh penerapan nilai-nilai pancasila dalam perilaku peserta didik  Kelas XI IPA SMA Negeri 2 Semau  sebagai berikut :

a.       Faktor dari guru

Kurangnya pengembangan guru dalam memilih model pembelajaran yang menarik sesuai karakter siswa sehingga siswa menjadi pasif.

b.      Faktor dari siswa

Siswa yang senantiasa pasif mengikuti pembelajaran, hanya mencatat dan mendengarkan bahkan ada yang bermain sendiri tanpa memperhatikan guru yang sedang menerangkan materi pelajaran.

c.       Faktor Linkungan

Faktor lingkungan menjadi hal yang sangat berpengaruh terhadap perilaku peserta didik dalam upaya menerapkan nilai-nilai pancasila dalam perilakunya sehari-hari.

 

1.3 Rumusan Masalah

Untuk memperjelas penelitian, rumusan yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah :

“ Pengaruh Nilai-Nilai Pancasila Terhadap Perilaku Peserta Didik Melalui Pembelajaran PKn Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri Negeri 2 Semau.

1.4 Tujuan Penelitian

      Beberapa  hal yang menjadi tujuan penelitian ini adalah :

a.       Untuk mengetahui  Pengaruh Nilai-Nilai Pancasila Terhadap Perilaku Peserta Didik Melalui Pembelakajaran PKn Siswa Kelas XI IPA Semester I SMA Negeri Negeri 2 Semau .

b.      Untuk mengetahui Implementasi  Nilai-Nilai Pancasila Terhadap Perilaku Peserta Didik Melalui Pembelakajaran PKn Siswa Kelas XI IPA Semester I SMA Negeri Negeri 2 Semau.

I.5  Manfaat Penelitian

1.5.1 Manfaat Akademis

Manfaat akademis hasil penelitian ini adalah untuk memberikan referensi tentang Pengaruh dan bentuk implementasi Nilai-Nilai Pancasila Terhadap Perilaku Peserta Didik Melalui Pembelakajaran PKn Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri Negeri 2 Semau.

1.5.2 Manfaat Praktis

a.         Manfaat bagi guru

1)      Memberikan pemahaman dan pengalaman mengajar dengan model pembelajaran

2)      Guru dapat menerapkan model pembelajaran  dengan baik untuk mencapai hasil yang optimal.

3)      Sebagai bahan masukan untuk menerapkan suatu model pembelajaran selain pembelajaran yang dilakukan oleh guru.

b.         Manfaat bagi siswa

1)      Dapat meningkatkan motivasi dan semangat belajar siswa serta dalam  penerapan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

c. Manfaat bagi sekolah

1)   Sebagai masukan dalam rangka mengefektifkan pembelajaran yang lebih bermakna dalam pelaksanaan pembelajaran.

2)      Dapat meningkatkan kualitas sekolah yang diwujudkan melalui hasil belajar yang diperoleh siswa.

3)   Menambah koleksi perpustakaan sekolah mengenai hasil PTK, memberi informasi kepada kepala sekolah mengenai PTK, meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas XI IPA SMA Negeri 2 Semau.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II
KAJIAN
PUSTAKA

2.1  Nilai – Nilai Pancasila

2.1.1  Pengertian Nilai

       Nilai adalah ukuran, patokan-patokan, anggapan-anggapan keyakinan yang ada di dalam masyarakat. Nilai digunakan sebagai patokan  seseorang berperilaku dalam masyarakat. Selain itu, nilai memberi arah bagi tindakan seseorang. Nilai dianut oleh banyak orang dalam suatu masyarakat mengenai sesuatu yang benar, pantas, luhur dan baik untuk dilakukan .

       Menurut Laning Dwi Vina dan Wismulyani Endar (2009), fungsi nilai:

a.       Nilai sebagai pembentuk cara berpikir dan berperilaku yang ideal dalam masyarakat

b.      Nilai dapat menciptakan semangat pada manusia untuk mencapai sesuatu yang diinginkannya

c.       Nilai dapat digunakan sebagai alat pengawas perilaku seseorang dalam masyarakat

d.      Nilai dapat mendorong, menuntun, dan menekan orang untuk berbuat baik

e.       Nilai dapat berfungsi sebagai alat solidaritas diantara anggota masyarakat.

2.1.2  Pengertian Pancasila

                        Pancasila adalah Dasar Kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Proses lahirnya Pancasila menjadi sejarah yang tidak akan pernah terlupakan oleh bangsa Indonesia. Kata pancasila berasal dari bahasa Sansekerta. Panca berarti lima dan Sila berarti prinsip atau asas.  Pancasila berarti lima asas atau Lima Dasar atau lima Sila.  Lima sila tersebut adalah :

1.      Ketuhanan yang maha Esa.

2.      Kemanusiaan yang adil dan beradab.

3.      Persatuan Indonesia.

4.      Kerakyatanyang dipimpin oleh hikmat dan kebijaksanaan dalam Permusyawaratan perwakilan, dan

5.      Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

                        Masing–masing sila mengandung nilai–nilai yang menjadi pedoman bagi Bangsa Indonesia. Nilai-nilai Pancasila terkandung dalam pembukaan UUD 1945 secara yuridis memiliki kedudukan sebagai pokok kaidah Negara yang Fundamental. Adapun pembukaan UUD 1945 yang di dalamnya memuat nilai-nilai Pancaasila, yang bilamana dianalisis makna yang terkandung di dalamnya tiak lain merupakan derivasi atau penjabaran dari nilai-nilai Pancasila.

 

 

2.1.3  Makna Nilai-Nilai Yang Terkandung dalam Pancasila

                        Suatu dasar negara akan kuat, apabila dasar tersebut berasal dan berakar pada diri bangsa yang bersangkutan.  Bangsa Indonesia mempunyai dasar negara yang bukan jiplakan dari luar, akan tetapi asli Indonesia. Unsur-unsur Pancasila terdapat didalam berbagai agama, kepercayaan, adat istiadat, dan kebudayaan. Karena dalam agama, kepercayaan, adat istiadat dan kebudayaan tersebut berkembang nilai-nilai antara lain nilai moral, maka Pancasila pun mengandung nilai moral dalam dirinya.

1.    Kedudukan Nilai, Norma, dan Moral dalam Masyarakat

a.    Kedudukan Nilai dalam masyarakat

                Kehidupan manusia dalam masyarakat, baik sebagai pribadi maupun sebagai masyarakat, senantiasa berhubungan dengan nilai-nilai, norma dan moral.

                Nilai adalah sesuatu yang berharga, berguna, indah, dan memperkaya batin yang menyadarkan manusia akan harkat dan martabatnya.  Nilai merupakan salah satu wujud kebudayaan, disamping sistem sosial dan karya. Cita-cita, gagasan, konsep, ide tentang suatu hal adalah wujud kebudayaan sebagai sistem nilai.  Olah karena itu nilai dapat dihayati sebagai kebudayaan dalam wujud kebudayaan abstrak.  Untuk mengidentifikasi nilai-nilai yang terdapat dalam kehidupan masyarakat ada 6 macam nilai :

1.    Nilai teori adalah untuk mengetahui identitas benda dan kejadian yang terdapat disekitarnya.

2.    Nilai ekonomi adalah pemanfaatan benda-benda atau kejadian yang mengikuti nalar efisiensi.

3.    Nila estetik adalah mempelajari sesuatu yang indah.

4.    Nilai sosial berorientasi pada hubungan antara manusia dengan yang lainnya dan menekan pada segi-segi kemanusiaan yang luhur.

5.    Nilai politik berpusat pada kekuasaan srta berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat.

6.    Nilai religi adalah manusia menilai alam sekitarnya sebagai wujud rahasia kehidupan dan alam semesta.

b.    Kedudukan Norma dalam masyarakat

Norma adalah petunjuk tingkah laku yang harus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan motivasi tertentu. Norma sesungguhnya perwujudan martabat manusia sebagai makhluk budaya, sosial, moral dan religi. Suatu kesadaran dan sikap luhur yang dikehendaki oleh tata nilai yang harus dipatuhi.  Oleh karena norma dalam perwujudannya dapat berupa norma agama, norma filsafat, kesusilaan, hukum, dan norma sosial.

 

 

c.    Kedudukan Moral dalam masyarakat

         Moral adalah ajaran tentang hal yang baik dan buruk, yang menyangkut perilaku manusia.  Seseorang yang taat dan patuh pada aturan-aturan, kaidah dan norma yang berlaku dalam masyarakatnya dia sudah dianggap sesuai dan bertindak benar secara moral.  Moral dalam perwujudannya dapat berupa aturan, prinsip-prinsip yang benar, yang baik, yang terpuji dan mulia. Moral dapat berupa kesetiaan, kepatuhan terhadap nilai dan norma yang mengikat kehidupan masyarakat, negara dan bangsa.  Moral dapat dibedakan seperti moral ketuhanan atau agama, moral filsafat, etika, hukum, ilmu dan sebagainya. Nilai, Norma, dan Moral secara bersama mengatur kehidupan masyarakat dalam berbagai aspeknya.  Pancasila secara filsafat mengandung nilai-nilai yang bersifat Fundamental, universal, mutlak dan abadi dari Tuhan yang Maha Esa yang tercermin dalam inti kesamaan ajaran-ajaran agama dalam kitab sucinya, artinya di dalam nilai-nilai tersebut mengandung nilai moral, maka Pancasila pun mengandung nilai moral dalam dirinya.

 

Makna Nilai dalam Pancasila:

1.      Nilai Ketuhanan

Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung arti adanya pengakuan dan keyakinan bangsa terhadap adanya Tuhan pencipta alam semesta. Dengan nilai ini menyatakan bangsa Indonesia merupakan bangsa yang religius bukan bangsa atheis. Nilai ketuhanan juga memiliki arti adanya pengakuan akan kebebasan memeluk agama, menghormati kemerdekaan beragama, tidak ada paksaan serta tidak berlaku diskriminatif antar umat beragama.

2.      Nilai Kemanusiaan

Nilai Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab memiliki arti kesadaran sikap dan perilaku sesuai dengan nilai moral-moral dalam hidup bersama atas dasar tuntutan hati nurani dengan memperlakukan sesuatu hal sebagaimana mestinya.

3.      Nilai Persatuan

Nilai Persatuan Indonesia mengandung makna usaha ke arah bersatu dalam kebulatan rakyat untuk membina rasa nasionalisme dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Persatuan Indonesia sekaligus mengakui dan menghargai sepenuhnya terhadap keanekaragaman yang dimiliki bangsa Indonesia.

4.      Nilai Kerakyatan

Nilai Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan mengandung makna suatu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat dengan cara musyawarah mufakat melalui lembaga-lembaga perwakilan.

5.      Nilai Keadilan

Nilai Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia mengandung makna sebagai dasar sekaligus tujuan, yaitu tercapainya masyarakat Indonesia yang Adil dan Makmur secara lahiriah ataupun batiniah. Nilai-nilai dasar itu sifatnya abstrak dan Pnormatif. Karena sifatnya abstrak dan normatif, isinya belum dapat dioperasionalkan. Agar dapat bersifat operasional dan eksplisit, perlu dijabarkan ke dalam nilai instrumental. Contoh nilai instrumental tersebut adalah UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan lainnya.

2.1.4  Pancasila Sebagai Sumber Nilai

      Bagi bangsa Indonesia, yang dijadikan sebagai sumber nilai dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara adalah Pancasila. Ini berarti bahwa seluruh tatanan kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara menggunakan Pancasila sebagai dasar moral atau norma dan tolak ukur tentang baik buruk dan benar salahnya sikap, perbuatan dan tingkah laku bangsa Indonesia.

      Nilai-nilai Pancasila itu merupakan nilai intrinsik yang kebenarannya dapat dibuktikan secara objektif, serta mengandung kebenaran yang universal. Dengan demikian, tinjauan Pancasila berlandaskan pada Tuhan, manusia, rakyat, dan adil sehingga nilai-nilai Pancasila memiliki sifat objektif.

      Pancasila dirumuskan oleh para pendiri negara yang memuat nilai-nilai luhur untuk menjadi dasar negara. Sebagai gambaran, di dalam tata nilai kehidupan bernegara, ada yang disebut sebagai nilai dasar, nilai instrumental, dan nilai praktis.

·           Nilai dasar

Asas-asas yang kita terima sebagai dalil yang kurang lebih mutlak. Nilai dasar berasal dari nilai-nilai kultural atau budaya yang berasal dari bangsa Indonesia itu sendiri, yaitu yang berakar dari kebudayaan, sesuai dengan UUD 1945 yang mencerminkan hakikat nilai kultural.

·           Nilai instrumental

Pelaksanaan umum nilai-nilai dasar, biasanya dalam wujud nilai sosial atau nilai hukum, yang selanjutnya akan terkristalisasi dalam lembaga-lembaga yang sesuai dengan kebutuhan tempat dan waktu.

·           Nilai praktis

Nilai yang sesungguhnya kita laksanakan dalam kenyataan. Nilai ini merupakan bahan ujian, apakah nilai dasar dan nilai instrumental sungguh-sungguh hidup dalam masyarakat atau tidak. Di dalam Pancasila tergantung nilai-nilai kehidupan berbangsa. Nilai-nilai tersebut adalah nilai ideal, nilai material, nilai positif, nilai logis, nilai estetis, nilai sosial dan nilai religius atau keagamaan.

2.2. Praktik Penyelenggaraan Nilai-Nilai Pancasila

Lima sila dalam Pancasila merupakan satu kesatuan utuh dalam praktik penyelenggaraan pemerintahan. Mengabaikan satu sila saja berarti mencabik tujuan negara Indonesia.

Anda mungkin telah memahami perwujudan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Nah berikut ini adalah nilai-nilai Pancasila dalam penyelenggaraan pemerintahan Indonesia:

Nilai Sila Ketuhanan Yang Maha Esa

Sila pertama ini mengandung nilai bahwa negara Indonesia adalah pengejawantahan tujuan manusia sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa.

Tujuan tersebut meliputi penegakan nilai-nilai kemanusian, menjadikan agama sebagai basis untuk membangun persatuan dan kedamaian, menghargai perbedaan secara demokratis, dan berupaya mensejahterakan kehidupan sesama.

Melansir dari bahan ajar Kemdikbud, nilai-nilai penyelenggaraan sila pertama dalam pemerintahan meliputi:

·         Pengakuan adanya kausa prima yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

·         Menjamin penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan beribadah menurut agamanya.

·         Tidak memaksa warga negara untuk beragama, tetapi diwajibkan memeluk agama sesuai hukum yang berlaku.

·         Atheisme dilarang hidup dan berkembang di Indonesia.

·         Menjamin berkembang dan tumbuh suburnya kehidupan beragama dan toleransi antarumat dalam beragama.

·         Negara memfasilitasi tumbuh kembangnya agama dan iman warga negara, serta menjadi mediator ketika terjadi konflik antar agama.

Nilai Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Sila kedua memuat amanat bahwa seluruh manusia diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang sama derajatnya, sama hak dan kewajibannya, dan tanpa membeda-bedakan agama, suku, ras, dan golongan.

Berikut adalah nilai-nilai penyelenggaraannya:

·         Menempatkan manusia sesuai dengan hakikatnya sebagai makhluk Tuhan.

·         Menjunjung tinggi kemerdekaan sebagai hak segala bangsa.

·         Mewujudkan keadilan dan peradaban yang tidak lemah. Hal ini berarti bahwa yang dituju masyarakat Indonesia adalah keadilan dan peradaban yang tidak pasif, yaitu perlu pelurusan dan penegakan hukum yang kuat jika terjadi penyimpangan, karena keadilan harus direalisasikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Nilai Persatuan Indonesia

Persatuan Indonesia mengandung pengertian bersatunya bermacam-macam corak yang beraneka ragam, mulai dari ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan keamanan menjadi satu kebulatan.

Nilai-nilai penyelenggaraan sila ketiga dalam pemerintahan meliputi:

·         Nasionalisme

·         Cinta bangsa dan tanah air

·         Menggalang persatuan dan kesatuan bangsa

·         Menghilangkan penonjolan kekuatan atau kekuasaan, keturunan dan perbedaan warna kulit.

·         Menumbuhkan rasa senasib dan sepenanggungan.

Nilai Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan / Perwakilan

Sila ini memiliki arti bahwa bangsa Indonesia menganut sistem demokrasi yang menempatkan rakyat di posisi tertinggi dalam hierarki kekuasaan. Berikut adalah nilai-nilai penyelenggaraannya:

·         Hakikat sila ini adalah demokrasi. Demokrasi dalam arti umum yaitu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

·         Permusyawaratan, artinya mengusahakan putusan bersama secara bulat, baru sesudah itu diadakan tindakan bersama.

·         Dalam melakukan putusan diperlukan kejujuran bersama. Hal yang perlu diingat bahwa keputusan bersama dilakukan secara bulat sebagai konsekuensi adanya kejujuran bersama.

·         Perbedaan secara umum demokrasi di negara barat dan di negara Indonesia, yaitu terletak pada permusyawaratan rakyat.

Nilai Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Keadilan berlaku untuk semua masyarakat Indonesia di segala bidang kehidupan. Nilai-nilai penyelenggaraan sila kelima dalam pemerintahan yaitu:

·         Kemakmuran yang merata bagi seluruh rakyat dalam arti dinamis dan berkelanjutan.

·         Seluruh kekayaan alam dan sebagainya dipergunakan bagi kesejahteraan bersama menurut potensi masing-masing.

·         Melindungi yang lemah agar kelompok warga masyarakat dapat bekerja sesuai dengan bidangnya.

2.3. Perilaku Peserta Didik

       2.3.1. Pengertian Perilaku

Kata perilaku merupakan kata yang sudah tidak asing lagi bagi semua golongan, namun demikian tidak sedikit yang mengetahui dan paham tentang definisi dari kata perilaku tersebut. Kamus Besar Bahasa Indonesia ( 2007:671) menjesalkan tentang definisi perilaku sebagai berikut “perilaku adalah segala perbuatan atau tindakan yang dilakukan oleh makhluk hidup. Perilaku adalah reaksi total yang diberikan individu atau seseorang kepada situasi yang dihadapi. Perilaku erat kaitanya dengan sikap.”

Definisi perilaku di atas dapat diartikan bahwa, perilaku merupakan semua perbuatan atau tindakan yang dilakukan serta diimplementasikan oleh semua makhluk hidup, sebagai reaksi terhadap situasi yang dihadapinya. Perilaku dimiliki oleh semua makhluk hidup tanpa terkecuali. Perilaku juga sangat erat kaitanya dengan sikap, terkait dengan sikap dibawah ini merupakan penjelasan sikap menurut salah satu ahli.

Menurut WA. Gerungan ( 2007:149) mengatakan “attitued adalah sikap terhadap objek tertentu, bisa berupa sikap pandangan atau sikap perasaan. Tetapi sikap yang disertai dengan kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan kecenderungan objek tadi.” Penjelasan menurut WA. Gerungan di atas dapat diartikan bahwa attitued adalah sikap individu terhadap sebuah objek tertentu. Sikap individu tersebut dapat diimplementasikan dalam bentuk sikap pandangan dan sikap perasaan, akan tetapi sikap tersebut disertai dengan tindakan sesuai dengan objeknya.

1.       Faktor-faktor yang mempengaruhi prilaku

a.       Faktor intern

Pengaruh yang timbul dari dalam diri seorang seperti emosi atau perasaan, emosi atau perasaan memiliki peranan yang cukup besar dalam pembentukan perilaku. Menurut Zakiah Darajat (2005:91) menyatakan bahwa “sesungguhnya emosi memegang peranan penting dalam sikap dan tindak agama, tidak ada satu sikap atau tindak agama seeorang yang dapat dipahami, tanpa mengindahkan emosinya, lebih ditegaskan lagi bahwa pengaruh perasaan (emosi) jauh lebih besar daripada rasio (logika).”

Menurut pendapat di atas bawa, emosi atau perasaan memegang peranan yang sangat pentig. Emosi atau perasan juga berperan penting dalam sikap seseorang, bahkan dalam tindakan beragama,  atau dengan kata lain ahlak. Tindak agama seseorang tidak dapat dipahami tanpa mengindahkan emosi atau perasaannya, bahkan dalam hal ini pengaruh perasaan atau emosi lebih besar bila dibandingkan dengan logika atau rasio.

 

b.      Faktor ektern

 

1.       Lingkungan keluarga

 

Menurut HM Arifin (1996:137) menyatakan bahwa “Lingkungan keluarga merupakan pedidikan utama dan pertama bagi anggotanya. Situasi pendidikan dalam keluarganya akan terwujud dengan baik berkat adanya pergaulan dan hubungan saling mempengaruhi cara timbal balik antara orang tua dengan anak. Suasana keluarga yang terbiasa melakukan perbuatan yang terpuji dan meninggalkan yang tercela, akan menyebabkan anggotanya tumbuh dengan wajar dan akan tercipta keserasian dalam keluarga. Sehingga pengaruh keluarga akan menjadikan pribadi yang baik.”

Pendapat di atas menunjukan bahwa, keluarga memiliki peran yang penting dalam pembentukan pribadi yang baik. Pembentukan pribadi yang baik didalam keluarga dikarenakan keluarga menjadi tempat yang paling pertama dan paling utama untuk setiap anggotanya. Perbuatan yang sering dilakukan oleh orang tua akan selalu ditiru oleh semua anggota keluarga, sehingga sebuah keluarga akn termenjadi baik mana kala hubungan di dalam keluarga tersebut baik serta sebaliknya.

 

2.       Lingkungan sekolah

 

Menurut Fraenkel dalam Hasan Jamani (2013:11) berpendapat bahwa “sekolah tidak semata-mata tempat dimana guru menyampaikan pengetahuan melalui berbagai mata pelajaran. Sekolah juga adalah lembaga yang mengusahakan usaha dan proses pembelajaran yang berorientasi pada nilai (value-oriented enterprise).”

Pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa, sekolah bukan hanya lembaga yang mentransfer knowledge atau pengetahuan. Sekolah juga mengupayakan dan membimbing peserta didik untuk mencapai sebuah perkembangan, baik secara jasmani ataupun rohani untuk mencapai kedewasaan. Pendidikan di sekolah juga mengupayakan untuk membangun watak, sikap serta kepribadian peserta didik agar menjadi lebih baik, seprti fungsi dan tujuan pendidikan yang tercantum dalam UU NO 20 Th 2003.

1.       Lingkungan masyarakat

 

Menurut HM Arifin (1996:132) berpendapat bahwa, “Masyarakat Indonesia sebagi masyarakat yang berjiwa masyarakat sosialitas- religius, sikap pribadinya berkembang dalam ruang lingkup (pola) sosialitas-religius. Dimana garis hidup yang menghubungkan sang khaliq (garis vertikal) merupakan kerangka dasar sikap dan pandangan, manusia mengalami perkembangan yang berbeda dalam proses belajar secara individual dan sosial.”

Dari pendapat di atas menunjukan bahwa lingkungan masyarakat, memberika peranan penting dan berpengaruh dalam pembentukan prilaku. Lingkungan masyarakat yang berbagi warna, telah menyumbangkan berbagai macam bentuk prilaku, seorang yang hidup dalam lingkungan yang religius akan memiliki prilaku dengan seorang anak yang hidup dalam lingkungan yang berbeda. Organisasi ataupun lembaga-lembaga yang berkembang di lingkungan masyarakat jugamemberikan pengaruh yang besar kepada seseorang, baik itu organisasi atau lembaga ekonomi, keagamaan, sosial atau yang lainnya.

2.       Bentuk prilaku siswa

 

Pembahasan di atas telah kita ketahui bahwa ada tiga faktor yang berperan dalm pembentukan prilaku, dari pembahasan di atas perlu kita ketahui bahwa prilaku itu dapat kita golongkan menjadi dua yaitu prilaku positif danprilaku negatif. Berikut adalah bentuk prilaku tersebut:

a.       Prilaku positif

 

1.       Jujur

 

Jujur merupakan kata yang tidak asing lagi bagi kita, namun definisi dari jujur itu sendiri tidak sedikit dari kita yang belum mengetahuinya. Kamus besar bahasa Indonesia (2009:8394) telah mendefinisikan kata jujur sebagi berikut “lurus hati, tidak curang.” Pengertian tersebut dapat diartikan bahwa, jujur merupakan perbuatan yang lurus sesuai dengan hati, dan tidak curang.

Selain itu Agus Susanti (2016) berpendapat bahwa “sidiq artnya jujur atau benar, lawan dari dusta atau bohong (al kazib). Seorang muslim dituntut selalu dalam keadaan benar lahir batin, maksudnya adala benar hati (shiqul qalbi), benar perkataan (shidqul hadits) dan benar perbuatan. Ketiga iniharus seiya sekata, artinya antara hati dan perkataan dan perbuatan harus sama, tidak boleh berbeda. Benar hati, apabila hati itu dihiasi dengan imankepada Allah Swt dan bersih dari segala penyakit hati seperti dengki, iri, sombong, riya, pendendam, pembohong dan sebagainya. Benar perkataan, apabila semua yang di ucapkan sesuai dengan kata hati dan mengandung kebenaran bukan

keberhasilan. Benar perbuatan apabila semua yang dilakukan sesuai dengan syari’at Islam.”

2.       Tanggung jawab

 

Tanggung jawab sering menjadi sebuah kata yang kita dengar  dalam kehidupan sehari-hari. Tanggung jawab menurut kamus besar bahasa Indonesia (2009:839) “wajib menanggung segala sesuatunya (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dsb).” Definisi di atas dapat diartikan bahwa tanggung jawab merupakan sikap siap menerima segala konsekwensi dari perbuatan yang telah dilakukanya.

Menurut Abdulkadir Muhammad (2008:157) berpendapat bahwa tanggung jawab adalah “segala kewajiban, memikul segala beban, menanggung segala akibat yang timbul dari perbuatan ataupun perbuatan orang lain, sesuai dengan norma kehidupan.” Pendapat tersebut dapat diartikan, bahwa tanggung jawab adalah sebuah konsekwensi yang harus diterima akibat dari perbuatan yang telah dilakukan.

 

3.       Disiplin

 

Menurut definisi dari kamus besar bahasa Indonesia (2009:191). “Disiplin adalah taat dan patuh terhadap peraturan yang dibuat bersama atau diri sendiri atau ketaatan terhadap peraturan yang berlaku.” Definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa, disiplim merupakan perbuatan  atau  sikap  patuh  terhadap  segala  peraturan  yang   berlaku

tanpa terkecuali. Menjalankan segala peraturan yang berlaku juga dalam keadaan sadar dan tanpa ada paksaan.

Arifin Chaniago (1996:72) juga mengemukakan disiplin sebagai berikut. “Setiap tugas pekerjaan yang dikerjakan dengan tekun maka pekerjaan yang sulitpun akan dapat dipecahkan dan dengan tekun bekerja berarti kita melatih disiplin.” Pendapat tersebut menyatakan, bahwa setiap pekerjaan yang kita kerjakan meskipun itu sulit maka kia telah melatih diri kita untuk disiplin.

 

 

b.      Prilaku negatif

 

1.       Bolos belajar

 

KBBI (2007:56) menjelaskan bahwa bolos adalah “tidak masuk kerja (sekolah dan sebaginya). Bolos disini dapat diartikan meninggalkan kelas atau sekolah tanpa izinpada saat jam pelajaran berlangsung. Mereka melakukan hal ini karena mera malas untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolahan.

2.       Sering meminta izin meninggalkan kelas

 

Siswa sering meminta izin untuk meninggalkan kelas pada saat pelajaran tertentu, atau pada saat guru tertentu. Kegiatan seperti ini yang membuat siswa menjadi tertinggal materi atau penjelasan guru saat menjelaskan materi pembelajaran, akibatnya siswa menjadi kurang paham terhadap pelajaran.

3.       Sering datang terlambat

 

Datang terlambat, kerap sekali terjadi pada siswa. Datang terlambat diakibatkan karena siswa malas untuk datang lebih awal, atau karena siswa malas bangun pagi.

4.       Suka menggangu teman saat belajar

 

Menggangu teman saat proses belajar juga prilaku yang menyimpang. Menggangu teman saat belajar juga bermacam-macam caranya, hal ini juga sangat menggangu teman bahkan bisa menggangu proses pembelajaran secara kesluruhan.

5.       Malas mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah

 

Guru selalu mempunya cara agar siswa melakukan proses belajar selain disekolah, salah satunya dengan memberikan PR. PR yang guru berikan bertujuan agar siswa selalu belajar meskipun tidak di sekolah, akan tetapi siswa yang malas mengerjakan PR merupakan sikap yang tidak baik, karena hal tersebut membuat siswa menjadi tidak disiplin.

 

 

 

 

 

 

2.4.  Kerangka berfikir

Kerangka berfikir dalam penelitian ini mengikuti skema sebagai berikut :

 

 

 

 

“ Pengaruh Nilai-Nilai Pancasila Terhadap Perilaku Peserta Didik Melalui Pembelakajaran PKn Siswa Kelas XI IPA Semester I SMA Negeri Negeri 2 Semau

 

Pengaruh Nilai-Nilai Pancasila

Peserta Didik

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB III

PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

 

A.     Tempat,Waktu,Subjek 

1.      Tempat Penelitian

Tempat yang dipakai sebagai lokasi penelitian yaitu:

Nama Sekolah       : SMA Negeri 2 Semau

Alamat                   : Jl. Oesemuk Desa Hansisi

Kelurahan/Desa     : Hansisi

Kecamatan             : Semau

Kabupaten             : Kupang

 

2.      Waktu Penelitian

Penelitian dibagi dalam beberapa Siklus dengan waktu sebagai berikut:

a.       Prasiklus          :  9 Mei 2022

b.      Siklus I                        : 11 Mei 2022

c.       Siklus II           : 13 Mei 2022

 

3.      Subjek Penelitian

Yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah Peserta Didik Kelas XI IPA Program Studi Ilmu Pengetahuan Alam dengan rincian jumlah siswa/i 27 Orang.

4.      Pihak yang Membantu

Adapun pihak yang turun berperan dalam penelitian ini yaitu :

a.       Supervisor I yang memberikan bimbingan kepada penulis dalam penyelesaian penulisan laporan.

b.      Supervisor II yang membimbing penulis dalam melakukan praktek perbaikan pembelajaran.

c.       Kepala Sekolah            yang memberi ijin kepada penulis untuk melakukan penelitian.

d.      Teman Sejawat            yang membantu, mengamati, dan menilai peneliti dan siswa kelas XI IPA yang diteliti.

 

B.     Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran / Kegiatan Pengembangan

SIKLUS I :

1.      Tahapan Perencanaan

a.       Guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

b.      Menyiapkan Buku Sumber materi pembelajaran

c.       Menyiapkan instrumen pembelajaran

d.      Menyiapkan lembaran Observasi

e.       Menyiapkan materi pembelajaran

f.       Menyusun alat evaluasi atau tes

g.       Melaksanakan perbaikan pembelajaran

 

2.      Pelaksanaan Tindakan

a.       Kegiatan Awal (15 menit)

1.      Guru dan siswa saling membrikan salam

2.      Guru meminta salah satu peserta didik untuk berdoa

3.      Guru mengecek kehadiran siswa

4.      Guru menyampaikan kompetensi dasar dan indikator pencapaian yang akan dicapai siswa

5.      Guru membuka pelajaran dengan memberikan apresiasi untuk menumbuhkan minat dan kesenangan siswa dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan tentang pembelajaran

b.      Kegiatan Inti

1.      Guru memberikan penjelasan materi

2.      Guru menyampaikan contoh terkait materi

3.      Guru membagi siswa dalam  beberapa kelompok

4.      Guru membagi poin pembahasan materi kepada siswa

5.      Siswa mendiskusikan materi yang diberikan guru

6.      Siswa menyampaikan hasil diskusi kelompok

7.      Guru dan siswa membahas hasil diskusi

8.      Guru dan siswa membahas hal-hal yang belum dipahami siswa

 

c.       Kegiatan Akir (15 menit)

1.      Guru bersama siswa membuat kesimpulan

2.      Guru dan siswa membuat rangkuman materi

3.      Guru memberikan PR

 

 

 

 

 

 

3.      Pengamatan

Pengamatan terhadap tindakan pembelajaran melalui media pembelajaran. Pengamatan dilakukan secara langsung oleh observer selama peneliti melaksanakan tindakan pembelajaran.

Pengamatan dilakukan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

4.      Refleksi

Pada tahap ini Observer dan Peneliti melakukan diskusi yang berkaitan dengan beberapa hal dalam kegiatan pembelajaran diantaranya :

-          Kegiatan pendahuluan

-          Kelemahan  rancangan pembelajaran

-          Kegiatan Penutup

Serta hasil refleksi yang kemudian dipakai sebagai hasil simpulan tindakan pembelajaran.

SIKLUS II :

1.      Tahapan Perencanaan

Guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

a.       Menyiapkan Buku Sumber materi pembelajaran

b.      Menyiapkan instrumen pembelajaran

c.       Menyiapkan lembaran Observasi

d.      Menyiapkan materi pembelajaran

e.       Menyusun alat evaluasi atau tes

f.       Melaksanakan perbaikan pembelajaran

 

2.      Pelaksanaan Tindakan

a.       Kegiatan Awal (15 menit)

1.      Guru dan siswa saling membrikan salam

2.      Guru meminta salah satu peserta didik untuk berdoa

3.      Guru mengecek kehadiran siswa

4.      Guru menyampaikan kompetensi dasar dan indikator pencapaian yang akan dicapai siswa

5.      Guru membuka pelajaran dengan memberikan apresiasi untuk menumbuhkan minat dan kesenangan siswa dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan tentang pembelajaran

b.      Kegiatan Inti

1.      Guru memberikan penjelasan materi

2.      Guru menyampaikan contoh terkait materi

3.      Guru membagi siswa dalam  beberapa kelompok

4.      Guru membagi poin pembahasan materi kepada siswa

5.      Siswa mendiskusikan materi yang diberikan guru

6.      Siswa menyampaikan hasil diskusi kelompok

7.      Guru dan siswa membahas hasil diskusi

8.      Guru dan siswa membahas hal-hal yang belum dipahami siswa

 

c.       Kegiatan Akir (15 menit)

1.      Guru bersama siswa membuat kesimpulan

2.      Guru dan siswa membuat rangkuman materi

3.      Guru memberikan PR

 

3.      Pengamatan

Pengamatan terhadap tindakan pembelajaran melalui media pembelajaran. Pengamatan dilakukan secara langsung oleh observer selama peneliti melaksanakan tindakan pembelajaran.

Pengamatan dilakukan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

4.      Refleksi

Pada tahap ini Observer dan Peneliti melakukan diskusi yang berkaitan dengan beberapa hal dalam kegiatan pembelajaran diantaranya :

-          Kegiatan pendahuluan

-          Kelemahan rancangan pembelajaran

-          Kegiatan Penutup

Serta hasil refleksi yang kemudian dipakai sebagai hasil simpulan tindakan pembelajaran.

C.     Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang di gunakan untuk mendapatkan kesimpulan dan jawaban yang sistematis maka data dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan data ke dalam kategori, langkah- langkah sebagai berikut:

 

1.          Reduksi data

Peneliti melakukan pemilihan hal penting dan pokok, selanjutnya dibuat kategori dan memilih data yang penting . Dalam reduksi data ini merupakan pemilihan hal penting dan pokok sehingga dapat memudahkan peneliti mengumpulkan data yang berkenaan dengan implementasi nilai-nilai pancasila di lingkungan Madrasah.

2.         Penyajian Data

Penyajian data yaitu merangkai beberapa data dalam satu informasi, sehingga mudah untuk menyimpulkan, dan mudah difahami Penyajian data yang dimaksud adalah memilih data sesuai dengan apa yang di butuhkan pengaruh nilai-nilai pancasila pada siswa- siswi Kelas X MIA SMA Negeri 2 Semau.

3.          Penarikan Kesimpulan

Penarikan kesimpulan yang dilakukan peneliti yaaitu dengan mengumpulkan beberapa bukti penelitian di lapangan. Selanjutnya peneliti melakukan deskripsi data yang telah diperoleh dan di analisis secara cermat dan sistematis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

 

4.1. Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran

4.1.1.      Pengaruh Nilai-Nilai Pancasila Terhadap Perilaku Peserta Didik Melalui Pembelakajaran PKn Siswa Kelas XI IPA Semester I SMA Negeri Negeri 2 Semau.

a.      Faktor Pengaruh Perilaku Peserta Didik

Perilaku peserta didik di pengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut :

1.      Faktor Internal

Faktor internal mencakup emosi yang timbul dalam diri peserta didik. Peserta didik yang mayoritas bertempat tinggal di wilayah  pedesaan, memiliki tantangan tersendiri untuk membentuk emosinya tetap stabil. 

Dalam menanggapi hal tersebut diatas, penerapan sistem pembelajaran PKn di Kelas XI IPA SMA Negeri 2 Semau, peneliti menggunakan sistem pembelajaran dengan membentuk kelompok belajar didalam kelas, hal tersebut dimaksudkan agar peserta didik dapat bekerja sama dan secara tidak langsung membentuk emosi dalam diri peserta didik.

2.      Faktor Eksternal

a.       Lingkungan Keluarga

Sebagai tempat dimana peserta didik memperoleh pendidikan utamanya, peran orang tua menjadi penentuan perilaku peserta didik. Memiliki hubungan dan anggota keluarga yang lengkap menjadi salah satu alasan mendasar terbentuknya psikologi peserta didik yang kemudian juga dapat mempengaruhi perilakunya. Dalam kasus ini sebagian peserta didik yang perilakunya sedikit bersimpangan dengan nilai pancasila, karena di pengaruhi oleh anggota keluarga yang kurang lengkap atau adanya persoalan rumah tangga sehingga peserta didik tidak mendapat pendidikan secara lengkap dalam lingkungan keluarga.

b.      Lingkungan Sekolah

Tidak saja sebagai tempat memperoleh pendidikan pengetahuan, sekolah juga berperan penting dalam membentuk karakter dan perilaku peserta didik. Penerapan sistem pembelajaran yang tepat sangat penting guna mendukung terbentuknya karakter dan perilaku peserta didik. Setiap peserta didik memiliki keinginannya tersendiri untuk setiap metode pembelajaran yang diberikan oleh tenaga pendidik.

Oleh karena itu dalam pembelajaran mata pelajaran  PKn pada Siswa/i kelas XI IPA SMA Negeri 2 Semau dilakukan dengan cara membentuk kelompok diskusi untuk pembahasan topik materi PKn yang akan di bahas.

c.       Lingkungan Masyarakat

Lingkungan masyarakat dengan berbagai perilaku masyarakat serta kegiatan-kegiatan sosial yang terjadi didalamnya tentu menjadi hal yang sangat berpengaruh terhadap perilaku peserta didik di sekolah.

Keanekaragaman suku dan budaya pada masyarakat ini juga turut berpengaruh terhadap perilaku peserta didik disekolah.

Hal tersebut di atas sangat berpengaruh terhadap perilaku peserta didik yang dapat terlihat dari bentuk kerja sama serta serta tidak memilih dalam bergaul.

4.1.2.      Implementasi  Nilai-Nilai Pancasila Oleh Peserta Didik.

Pada tahapan ini peneliti melihat perbandingan implementasi perilaku peserta didik dari nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila pancasila.

1.      Nilai Ketuhanan

Merupakan nilai kerohanian atau religius yang dimiliki peserta didik. Dalam implementasinya disekolah, peserta didik selalu terlibat dalam kegiatan-kegiatan kerohanian di lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan masyarakat.

2.      Nilai Kemanusiaan

Nilai kemanusiaan nampak dalam perilaku peserta didik dalam tindakannya di sekolah yang saling menghargai satu sama lain.

3.      Nilai Persatuan

Dalam tindakannya peserta didik tidak membedakan dalam memilih teman bergaul serta memiliki hubungan kerjasama yang baik.

4.      Nilai Kerakyatan

Dengan menerapkan metode pembelajaran yang disesuaikan dengan peserta didik yang beragam menjadi faktor penting dalam membentuk karekter peserta didik yang saling menghargai dalam menyampaikan pendapat ketika pembelajaran berlangsung.

5.      Nilai Keadilan

Dengan keaneka ragaman peserta didik yang ada, namun nilai keadilan nampak dalam perilaku peserta didik yang selalu berlaku adil dalam pergaulannya di sekolah.

 

4.2. Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran

Dari penelitian yang dilakukan menunjukan bahwa dengan metode dan konsep pembelajaran PKn yang dilakukan serta pengaruh lingkungan, baik di dalam  keluarga, teman sebaya atau sekolah, menunjukan pengaruh positif terhadap perilaku dan karakter dalam diri peserta didik.

Kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan kegiatan Prasiklus. Yaitu tahapan dimana peserta didik  diharapkan dapat menganalisis Nilai-nilai Pancasila dalam sistem pembagian kekuasaan negara Republik Indonesia.

a.      Hasil Observasi

Hasil observasi dilakukan sebagai  kegiatan Prasiklus untuk memahami aktifitas belajar peserta didik  sebelum perbaikan pelajaran PKN Kelas XI IPA dapat dilihat pada tabel berikut:

 

Tabel. 4.1

Hasil Observasi Prasiklus dan Siklus

No

Keterlibatan Siswa dalam pembelajaran

Prasiklus

Jumlah Siswa

%

1

Aktif

7

26

2

Kurang Aktif

5

19

3

Pasif

15

55

 

Jumlah

27

100

                 

Berdasarkan Tabel Observasi diatas bagaimana persentasi keterlibatan yang  dialami peserta didik dalam pembelajaran dikelas. Peneliti melakukan observasi dan kegiatan penilaian prasiklus melalui pemberian butiran soal kepada peserta didik  untuk mengukur tingkat pemahaman siswa sebelum masuk pada tahapan  perbaikan pembelajaran di kelas melalui Siklus I dan Siklus II.

Dari hasil observasi prasiklus tersebut pada tabel diatas menunjukan kurangnya persentasi keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran.

b.      Hasil Penilaian

Penilaian pembelajaran peserta didik dilakukan melalui prasiklus, Siklus I dan Siklus II.

Dari observasi keterlibatan siswa tersebut, peneliti melakukan penilaian melalui kegiatan penilaian tes dengan bentuk penilaian berupa soal pilihan ganda (Lampiran 3.a). Dari hasil tes pilihan ganda yang dilakukan, dapat dilihat perolehan nilai peserta didik Prasiklus dan Siklus I sebagai berikut :

TABEL VII

Data Hasil Tes Siswa Pada Prasiklus dan Siklus I

 

 

No

 

Nama Responden

 

Nilai

Keterangan

Ketuntasan Individual

Prasiklus

Siklus I

Prasiklus

Siklus I

1

Adelita K. Djamituka

79

80

T

T

2

Blandina Edon

78

80

T

T

3

Delmar Y.Siktimu

78

80

T

T

4

Elsa C. Bano

71

80

TT

T

5

Gumarlan Hatan

71

80

TT

T

6

Inri A. Edon

72

80

TT

T

7

Isabela Y.S  Habel

78

80

T

T

8

Cristin M. Nay

72

80

TT

T

9

Lara W. Sanu

68

80

TT

T

10

Marsanda A.F  Solet

71

80

TT

T

11

Merlan H. Ndolu

73

80

TT

T

12

Merlinda Mambung

78

80

T

T

13

Mysri B. Koen

78

80

T

T

14

PENINA N. SNAE

79

80

T

T

15

Raimondo Kudang

69

73

TT

TT

16

Rindi Nissi

68

72

TT

TT

17

Roy Pratama Kisek

70

80

TT

T

18

Sifra S.Hendrik

70

72

TT

TT

19

Soni A.A Haumeni

72

74

TT

TT

20

Susi Suzzana Dalle

73

80

TT

T

21

Vena Delila Edon

73

80

TT

TT

22

Virgo A. Thene

69

80

TT

T

23

Wantri Domirna Tapatab

70

80

TT

T

24

Yambres Eduar Nissi

71

80

TT

T

25

Yunanda A.P Laitera

69

71

TT

TT

26

Adelita K. Djamituka

69

72

TT

TT

27

Alan Martin Inggili

72

80

TT

T

 

Jumlah

1961

2114

T=7

TT=20

T=20

TT=7

 

Rata –Rata

73

78

 

 

 

Ketuntasan Kelas

26 %

74 %

 

 

Keterangan     :  KKM ≥ 75

                        TT = Tidak Tuntas

                        T  = Tuntas

Dari tabel  hasil tes siswa pada Prasiklus dan Siklus I dengan penilaian berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal  diperoleh Jumlah Nilai Prasiklus = 1961, Rata-Rata = 73 dan Ketuntasan Kelas 26 %. Jumlah Nilai Siklus I = 2114, Rata-Rata =78  dan Ketuntasan Kelas = 74 %.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil tes peserta didik pada prasiklus dinyatakan tidak tuntas dan hasil tes Siklus I dinyatakan Tuntas.

            Penilaian selanjutnya dilakukan untuk kegiatan perubahan pembelajaran Siklus I dan Siklus II yang dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :

 

TABEL VIII

Data Hasil Tes Siswa Pada Siklus I dan Siklus II

 

 

No

 

Nama Responden

 

Nilai

Keterangan

Ketuntasan Individual

Siklus I

Siklus II

Siklus I

Siklus II

1

Adelita K. Djamituka

80

82

T

T

2

Blandina Edon

80

82

T

T

3

Delmar Y.Siktimu

80

82

T

T

4

Elsa C. Bano

80

82

TT

T

5

Gumarlan Hatan

80

82

TT

T

6

Inri A. Edon

80

82

TT

T

7

Isabela Y.S  Habel

80

82

T

T

8

Cristin M. Nay

80

82

TT

T

9

Lara W. Sanu

80

82

TT

T

10

Marsanda A.F  Solet

80

82

TT

T

11

Merlan H. Ndolu

80

82

TT

T

12

Merlinda Mambung

80

82

T

T

13

Mysri B. Koen

80

82

T

T

14

PENINA N. SNAE

80

82

T

T

15

Raimondo Kudang

73

74

TT

TT

16

Rindi Nissi

72

73

TT

TT

17

Roy Pratama Kisek

80

82

TT

T

18

Sifra S.Hendrik

72

80

TT

T

19

Soni A.A Haumeni

74

82

TT

T

20

Susi Suzzana Dalle

80

82

TT

T

21

Vena Delila Edon

80

82

TT

T

22

Virgo A. Thene

80

82

TT

T

23

Wantri Domirna Tapatab

80

82

TT

T

24

Yambres Eduar Nissi

80

82

TT

T

25

Yunanda A.P Laitera

71

80

TT

T

26

Adelita K. Djamituka

72

74

TT

TT

27

Alan Martin Inggili

80

82

TT

T

 

Jumlah

2114

2185

T=20

TT=7

T=24

TT=3

 

Rata –Rata

78

81

 

 

 

Ketuntasan Kelas

74 %

89 %

 

 

Keterangan     :      KKM ≥ 75

                        TT = Tidak Tuntas

                        T  = Tuntas

 

Dari tabel  hasil tes siswa pada Siklus I dan Siklus I I dapat dilihat terdapat peningkatan dalam  motifasi belajar siswa sehingga dengan penilaian berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal,  diperoleh Jumlah Nilai Siklus I = 1961, Rata-Rata = 73 dan Ketuntasan Kelas 26 %. Jumlah Nilai Siklus II = 2114, Rata-Rata =81  dan Ketuntasan Kelas = 79  %.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil tes peserta didik pada Siklus I dan Siklus II  dinyatakan tuntas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel. 4.1

Hasil Observasi Prasiklus dan Siklus

No

Keterlibatan Siswa dalam pembelajaran

Prasiklus

Siklus I

Siklus II

Jumlah Siswa

%

Jumlah Siswa

%

Jumlah Siklus

%

1

Aktif

7

26

20

 

23

 

2

Kurang Aktif

5

19

3

 

1

 

3

Pasif

15

55

4

 

2

 

 

Jumlah

27

100

27

100

27

100

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1    Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, dapat di simpulkan bahwa dengan metode pembelajaran PKn yang dilakukan serta bimbingan guru mata pelajaran PKn terhadap siswa kelas XI IPA SMA Negeri 2 Semau, sangat berpengaruh secara positif.

Pengaruh nilai-nilai pancasila dalam perilaku peserta didik nampak selama kegiatan penelitian dilakukan. Selain pengaruh yang sangat positif terbut, juga nampak dalam perilaku atau implementasi nilai-nilai pancasila dalam diri peserta didik dalam tindakannya di lingkungan sekolah maupun dalam lingkungan masyarakat.

 

5.2  Saran Tindak Lanjut

5.2.1. Saran Bagi Guru

Agar mencapai hasil yang baik dalam membentuk karakter peserta didik, guru harus memilih metode pembelajaran yang tepat dan disesuaikan dengan kondisi peserta didik.

5.2.2.      Saran Bagi Sekolah

Sekolah harus turut mendukung dalam penyediaan media atau sarana prasarana yang dapat mendukung kegiatan pembelajaran di sekolah.

5.2.3.      Saran Bagi Orang Tua

Orang tua hurus turut serta memantau peserta didik dalam proses pendidikannya serta menyediakan sarana belajar yang tepat bagi siswa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Asmaroini, Ambiro Puji, ‘Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Bagi Siswa Di Era Globalisasi’, Citizenship Jurnal Pancasila Dan Kewarganegaraan, 4.2 (2016), 440 <https://doi.org/10.25273/citizenship.v4i2.1077>

Judiani, Sri, ‘Implementasi Pendidikan Karakter Di Sekolah Dasar Melalui Penguatan Pelaksanaan Kurikulum’, Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 16.9 (2010), 280 <https://doi.org/10.24832/jpnk.v16i9.519>

Kalidjernih, Freddy K, Jurnal Civics: Media Kajian Kewarganegaraan Terhadap Revitalisasi Pancasila’, 16.1 (2019), 103–10

Oktaviani Hidayat, Dewi, Inggi Eltariant, Rahmat Kevin Priyatna, and Sindi Agustina Fernanda, ‘Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Dalam Mencegah Degradasi Moral Terhadap Isu Sara Dan Hoax’, Jurnal Rontal Keilmuan PKN, 1945

Wahyono,     Imron,   ‘Implementasi   Nilai-Nilai   Pancasila   Dalam   Kegiatan

Pembelajaran Di Sdn 1 Sekarsuli the Implementation of Pancasila S Values in Learning Activities in Sdn 1’, 2018